Skip to content

CYBERCRIME

    Soal 1 – Akuisisi dan Hash Verification Barang Bukti Digital

    Screenshot :

    CYBERCRIME
    soal 1_lokasi file
    CYBERCRIME
    soal 1_perintah powershell + nilai hash

    Catatan :

    • Nama File : BMW F30 modified.jpg
    • Ukuran File : 3,36 MB (3.529.802 bytes)
    • Tanggal Pemeriksaan : 3 Juni 2026
    • Hash SHA-256 : 10CB1FBFD7C82CDF96518648C0E90CD22CCD2D520E68E725842B613365761CEC

    Penjelasan :

    Hash adalah suatu kode alfanumerik untuk menghasilkan sebuah digital kecil dari sembarang data. Hash sangat penting dan diperlukan dalam proses pembuktian digital karena hash bertendensi pada pemrosesan matematis atau suatu fungsi yang berupa data dalam berbagai ukuran dan dimasukkan dalam operasi. Format data-data tersebut sangat penting dan memiliki sifat tetap dan juga tersenkripsi. Apabila data sudah terenskripsi, maka data tersebut tidak dapat dikembalikan. Algoritma fungsi hash juga dikenal dengan sebutan one way function atau encryption satu arah.

    Dalam Hash, apabila terjadi perubahan sekecil apa pun pada isi file, maka nilai hash yang dihasilkan juga akan berubah secara signifikan. Perubahan tersebut dapat terjadi ketika file dipindahkan, disalin, dibuka menggunakan perangkat lunak tertentu, atau bahkan ketika ada pihak yang mencoba memanipulasi isi file untuk menghilangkan atau menambahkan informasi tertentu. Nilai hash berfungsi seperti sidik jari digital karena setiap file akan menghasilkan nilai hash yang berbeda. Hashing dalam digital forensic diperlukan untuk kegiatan investigasi seperti menjamin integritas bukti digital, Mengecek duplikasi/modifikasi data, dan Membantu identifikasi file berbahaya.

    Penggunaan hash juga berkaitan erat dengan prinsip chain of custody, yaitu rangkaian dokumentasi yang menunjukkan siapa yang menangani barang bukti, kapan barang bukti diterima, dipindahkan, diperiksa, atau disimpan. Dengan adanya hash, setiap pihak dapat memverifikasi bahwa file yang diperiksa adalah file yang sama dengan yang pertama kali diperoleh.

    Integritas barang bukti digital merupakan syarat penting agar alat bukti tersebut dapat dipercaya. Oleh karena itu, penggunaan algoritma SHA-256 menjadi salah satu praktik standar dalam digital evidence handling karena memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan sangat kecil kemungkinan menghasilkan dua nilai hash yang sama untuk file yang berbeda.

    Soal 2 – Simulasi Integritas Barang Bukti

    Hash File Asli (BMW F30) : 10CB1FBFD7C82CDF96518648C0E90CD22CCD2D520E68E725842B613365761CEC

    Hash File Salinan (BMW F30 – Copy) : 10CB1FBFD7C82CDF96518648C0E90CD22CCD2D520E68E725842B613365761CEC

    Hash File Salinan (Modifikasi) (BMW F30 – Copy (cropped)) : 0DD08781E846CAD2A18854FC5C9E57665BAEC149B191CD4B71CB3665B3D49DC6

    CYBERCRIME
    soal 2_komparasi hash

    Jawaban :

    1. Hash berubah karena ketika kita merubah sebuah file, contohnya meng-crop sebuah foto, maka struktur didalamnya juga ikut berubah seperti ukuran gambar, jumlah pixel, struktur data JPG, dan juga metadata didalamnya. Sehingga isi binary file juga berubah. Berubahnya hash hanya terjadi ketika sebuah file di edit, dan tidak berubah ketika file tersebut hanya di copy.
    2. Perubahan 1 karakter saja pada struktur hashh sangat mempengaruhi integritas barang bukti. Seorang penyidik selalu melakukan hashing pada saat pertama kali memperoleh barang bukti supaya bb tersebut terjaga keasliannya hingga saat hari pembuktian dalam persidangan. Ketika 1 karakter hash berubah, itu menandakan bahwa data sudah tidak identik dengan file aslinya.
    3. Ketika penyidik tidak melakukan verifikasi hash, maka penyidik tidak dapat membuktikan bahwa bb masih asli dan belum termodifikasi sejak pertama kali didapat. Tanpa verifikasi hash, barang bukti elektronik berisiko dipersoalkan bahkan dimanipulasi. Hal ini dapat menjadi celah pembelaan bagi Kuasa Hukum Terdakwa untuk menyanggah bb yang diajukan dalam persidangan dan akhirnya bb ditolak.

    Soal 3 – Pemeriksaan Metadata Barang Bukti

    CYBERCRIME
    soal 3_metadata file (1)
    CYBERCRIME
    soal 3_metadata file (2)
    • Nama File : BMW F30 modified.jpg
    • Tanggal Dibuat : 2026:06:03 16:31:41+07:00
    • Tanggal Diubah : 2026:05:25 22:46:22+07:00
    • Software Pembuat File :

    Jawaban Pertanyaan :

    1. Apakah metadata dapat digunakan sebagai alat bukti?
      Ya, karena pada dasarnya metadata mengandung informasi-informasi dari suatu file digital seperti tanggal, tempat dan waktu, dimana itu dapat membantu penyidik dalam mencocoklogikan sebuah file dengan sebuah peristiwa
    2. Apa keterbatasannya?
      Metadata tidak bisa dijadikan satu-satunya alat bukti, mengingat metadata juga dapat dimanipulasi dan tidak semua file memiliki metadata lengkap. Metadata juga tidak dapat membuktikan pelaku secara langsung karena hanya bersifat dokumen pendukung

    Soal 4 – Penyusunan Chain of Custody dan Laporan Forensik Sederhana

    Formulir Chain of Custody

    TanggalPetugasAktivitas
    03/06/2026Insan Aziz AdyatmaMenerima file barang bukti
    03/06/2026Insan Aziz AdyatmaMenghitung hash SHA-256
    03/06/2026Insan Aziz AdyatmaMelakukan pemeriksaan metadata
    03/06/2026Insan Aziz AdyatmaMenyimpan salinan kerja untuk analisis

    Identifikasi Barang Bukti

    CYBERCRIME
    soal 4_BB Invoice Penipu.png
    • Nama File : Invoice Penipu.png
    • Ukuran : 1,89 MB (1.985.173 bytes)
    • Hash : 61BB3AFF24D367709BBE539621B7C80536756BFDFED381E50F24790FA2990A41
    • Nama File : Chat_Penjual Penipu.txt
    • Ukuran : 2,93 KB (3.004 bytes)
    • Hash : 3B70304552E91592D838C81BBB9108A701BF9905902167F2896EC256BF30AD45
    • Nama File : invoice_toko_laptop_josjis.pdf
    • Ukuran : 14,7 KB (15.107 bytes)
    • Hash : 3DCC64A7AC912CC7889528087F7A38C5524EE93F44A79A808A436784237D3280

    Langkah Pemeriksaan

    1. Akuisisi
      Penyidik menerima tiga barang bukti digital yang terdiri atas satu file teks (TXT), satu file gambar (PNG), dan satu file dokumen (PDF) yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana penipuan online dalam transaksi jual beli laptop gaming. Seluruh barang bukti disimpan dalam media penyimpanan kerja untuk dilakukan pemeriksaan forensik digital.
    2. Dokumentasi
      Setiap barang bukti didokumentasikan oleh Penyidik dengan mencatat nama file, jenis file, ukuran file, lokasi penyimpanan, tanggal pemeriksaan, dan informasi identifikasi lainnya.
    3. Verifikasi Hash
      Penyidik melakukan perhitungan nilai hash menggunakan algoritma SHA-256 terhadap seluruh barang bukti digital. Nilai hash dicatat sebagai identitas unik masing-masing file dan digunakan untuk memastikan integritas barang bukti selama proses pemeriksaan. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa file yang diperiksa tetap identik dengan file yang diterima pada awal pemeriksaan.
    4. Pemeriksaan Metadata
      Metadata dari file PNG dan PDF diperiksa menggunakan alat forensik digital untuk memperoleh informasi mengenai tanggal pembuatan file, tanggal modifikasi file, ukuran file, format file, serta atribut teknis lainnya. Untuk file TXT dilakukan pemeriksaan atribut file dan isi dokumen guna memperoleh informasi yang relevan dengan proses investigasi.

    Temuan

    Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap ketiga barang bukti digital, ditemukan informasi yang saling berkaitan dan membentuk kronologi dugaan penipuan online dalam transaksi jual beli laptop gaming.

    Pada file Chat_Penjual Penipu.txt, ditemukan percakapan antara korban dan pihak yang mengaku sebagai penjual laptop gaming. Dalam percakapan tersebut, penjual menawarkan sebuah laptop gaming dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar dan meminta korban untuk melakukan pembayaran uang muka (DP) sebesar Rp500.000 sebagai syarat pemesanan barang. Setelah korban menyatakan telah melakukan transfer, pihak penjual sempat mengonfirmasi penerimaan dana dan menjanjikan pengiriman barang. Namun setelah itu penjual tidak lagi memberikan respons terhadap pesan korban dan komunikasi terputus.

    Pada file Invoice Penipu.png, ditemukan bukti transfer dengan status transaksi berhasil. Bukti transfer menunjukkan adanya pengiriman dana sebesar Rp500.000 pada tanggal 01 Juni 2026 pukul 10:18:42 WIB dari rekening atas nama Budi Santoso ke rekening atas nama Andi Pratama. Nomor referensi transaksi yang tercantum adalah TRX202606010018.

    Pada file invoice_toko_laptop_josjis.pdf, ditemukan dokumen invoice yang memuat transaksi pembelian laptop gaming dengan nomor invoice INV/20260601/0492. Dokumen tersebut mencantumkan pembayaran uang muka sebesar Rp500.000 dan nomor referensi transaksi TRX202606010018, yang identik dengan nomor referensi pada bukti transfer PNG. Selain itu, invoice juga menjelaskan bahwa pembayaran DP telah diterima sebagai bagian dari transaksi pembelian laptop gaming.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil korelasi ketiga barang bukti tersebut, ditemukan kesesuaian informasi mengenai pihak-pihak yang terlibat, nominal pembayaran, waktu transaksi, dan nomor referensi transaksi. Keterkaitan data tersebut menunjukkan adanya hubungan langsung antara percakapan, proses pembayaran, dan dokumen transaksi yang diperiksa.

    Laporan Forensik

    LAPORAN FORENSIK DIGITAL SEDERHANA

    Pemeriksaan forensik digital dilakukan terhadap tiga barang bukti yang diduga berkaitan dengan kasus penipuan online dalam transaksi jual beli laptop gaming. Barang bukti yang diperiksa terdiri dari file teks Chat_Penjual Penipu.txt, file gambar Invoice Penipu.png, dan file dokumen invoice_toko_laptop_josjis.pdf. Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengidentifikasi keterkaitan antarbarang bukti, memverifikasi integritas data, serta memperoleh informasi yang dapat digunakan dalam proses investigasi.

    Tahap awal pemeriksaan dilakukan dengan mengamankan dan mendokumentasikan seluruh barang bukti digital. Selanjutnya dilakukan verifikasi integritas menggunakan algoritma hash SHA-256 untuk memastikan bahwa file yang diperiksa tidak mengalami perubahan selama proses analisis. Setelah itu dilakukan pemeriksaan metadata dan analisis isi terhadap masing-masing file.

    Hasil pemeriksaan pada file Chat_Penjual Penipu.txt menunjukkan adanya percakapan antara korban dan pihak yang mengaku sebagai penjual laptop gaming. Dalam percakapan tersebut, penjual menawarkan sebuah laptop gaming dan meminta pembayaran uang muka (DP) sebesar Rp500.000 sebagai syarat pemesanan barang. Setelah korban melakukan pembayaran, penjual sempat mengonfirmasi penerimaan dana namun kemudian tidak lagi memberikan respons terhadap pesan yang dikirim korban.

    Pemeriksaan terhadap file Invoice Penipu.png menunjukkan adanya transaksi transfer dana sebesar Rp500.000 dari Budi Santoso kepada Andi Pratama dengan status transaksi berhasil. Bukti transfer tersebut memuat nomor referensi transaksi TRX202606010018 yang digunakan untuk mengidentifikasi transaksi secara spesifik.

    Selanjutnya, file invoice_toko_laptop_josjis.pdf memuat dokumen invoice pembelian laptop gaming yang mencantumkan nomor referensi transaksi yang sama dengan bukti transfer. Dokumen tersebut juga menjelaskan bahwa pembayaran uang muka sebesar Rp500.000 telah diterima sebagai bagian dari transaksi pembelian laptop gaming.

    Berdasarkan hasil korelasi seluruh barang bukti, ditemukan kesesuaian informasi mengenai pihak yang terlibat, nominal pembayaran, waktu transaksi, dan nomor referensi transaksi. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara percakapan, pembayaran, dan dokumen transaksi. Oleh karena itu, ketiga barang bukti digital memiliki nilai pembuktian yang relevan dan dapat digunakan untuk mendukung proses investigasi lebih lanjut terkait dugaan tindak pidana penipuan melalui media elektronik.

    Bonus

    CYBERCRIME
    soal bonus_hash file dalam folder

    Manfaat Otomatisasi Hash

    Pada investigasi digital skala besar, penyidik sering menangani ratusan hingga ribuan file yang terdiri dari dokumen, gambar, video, log aktivitas, dan berbagai data elektronik lainnya. Jika proses perhitungan hash dilakukan satu per satu, maka pemeriksaan akan memerlukan waktu yang sangat lama dan berpotensi menimbulkan kesalahan manusia.

    Otomatisasi perhitungan hash menggunakan PowerShell memungkinkan seluruh file dalam suatu folder diperiksa secara cepat dan konsisten. Setiap file akan memperoleh nilai hash unik yang berfungsi sebagai identitas digital untuk memverifikasi integritas data. Dengan cara ini, penyidik dapat dengan mudah mendeteksi perubahan sekecil apa pun pada barang bukti karena perubahan satu karakter saja akan menghasilkan nilai hash yang berbeda.

    Selain meningkatkan efisiensi, otomatisasi hash juga membantu menjaga akurasi dokumentasi forensik. Nilai hash yang dihasilkan dapat dicatat dalam laporan pemeriksaan dan digunakan untuk membuktikan bahwa barang bukti yang dianalisis memiliki kondisi yang sama dengan saat pertama kali diterima.